Investasi Itu Bukan Menabung

Investasi Itu Bukan Menabung

Di Negara kita ini mungkin kata investasi masih tabu di telinga banyak orang. Hal ini dikarenakan sejak kecil kita diajarkan untuk menabung bukan berinvestasi. Sehingga wajar bila investasi masih asing di Indonesia. Maka dari itu dewasa ini pemerintah sedang menggalakkan program berinvestasi, contohnya investasi di reksa dana. Untuk investasi reksa dana saham bisa dimulai dari harga 100 ribu rupiah, masyarakat sudah dapat memiliki saham di perusahaan yang dijual di bursa efek. Untuk membuka rekening saham pun sekarang sudah bisa dilakukan  secara online. Bahkan pada beberapa sekuritas syarat membuka rekening hanya dengan 100 ribu rupiah saja.

Menabung tidaklah salah, namun diharapkan masyarakat mulai mengganti menabung di bank dengan menabung saham atau instrumen investasi lainnya. Investasi mempunyai beragam instrumen seperti saham, reksa dana, obligasi, emas dan sebagainya. Namun yang dianjurkan oleh beberapa pakar keuangan ada 3 instrumen investasi, yaitu:

  • Emas

Emas merupakan logam mulia yang telah terbukti tahan terhadap laju inflasi dan likuiditasnya. Emas sejak zaman dahulu terkenal digunakan untuk menjadi bukti kekayaan seseorang. Harga emas tidak ditentukan oleh tempat anda membeli atau menjual, tapi ditentukan oleh bursa pada komoditas yang berlaku di seluruh dunia. Harga emas juga memiliki kecenderungan naik sepanjang tahun.

Pada tahun 2013 harga emas sempat menurun. Hal ini mengakibatkan emas bukan menjadi primadona seperti pada 10 atau 15 tahun silam. Saat itu harga emas rata-rata naik pada kisaran 15-20% per tahun. Sedangkan sekarang hanya naik sekitar 10-12% per tahun. Meskipun begitu emas sangat berguna untuk mangamankan asset, karena sifatnya yang tahan terhadap inflasi dibanding dengan menyimpan uang di bank yang nilainya terus menurun tergerus inflasi. Emas sangat cocok digunakan untuk investasi jangka panjang. Membeli emas pun sekarang sudah sangat mudah, bahkan seseorang bisa memilliki emas dengan harga kisaran 5000 rupiah saja.

  • Saham

Saham adalah surat berharga suatu perusahaan. Namun tidak setiap perusahaan dapat dibeli sahamnya, karena hanya perusahaan yang telah terdaftar dibursa efek Indonesia saja atau perusahaan tersebut telah menjadi terbuka (tbk). Di Amerika saham sudah sangat familiar. Hal ini terbukti dari jumlah transaksinya yang mencapai jutaan dolar per hari. Di indonesia pemerintah mengadakan prorgram Yuk Nabung Saham pada tahun 2015. Pemerintah menurunkan minimal pembelian lot pada saham yaitu dari 5 lot menjadi 1 lot. 1 lot berarti mempunyai 100 lembar saham dengan harga saham termurah yaitu 50 rupiah per lembar. Jadi dengan 50.000 rupiah saja bisa memiliki perusahaan.

Untuk membeli saham berarti harus mempunyai rekening saham atau disebut Rekening Dana Investor (RDI). Caranya adalah dengan mendaftar pada perusahaan  sekuritas yang bertugas sebagai penjual saham. Saat ini ada sekitar 600 an perusahaan yang telah terdaftar di bursa efek indonesia. Saham sudah teruji di berbagai negara di dunia sebagai aset dan portofolio. Saham juga memiliki sifat seperti emas yaitu likuid atau bisa dicairkan kapan saja. Hal ini berfungsi sekali saat dibutuhkan untuk kebutuhan mendadak.

Keunggulan dari saham yang lain yaitu bisa memperoleh dividen atau imbal hasil dari perusahaan setiap satu tahun sekali, bahkan ada yang satu tahun dua kali. Meski begitu tidak setiap perusahaan membagi dividen itu, semua bergantung pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Sehubungan dengan prinsip dari investasi yaitu high risk high return, saham memiliki resiko kerugian lebih tinggi daripada emas. Karena saham itu sangat fluktuatif dan terdapat resiko di mana perusahaan bisa bangkrut. Jadi dibutuhkan analisa data yang baik untuk memilih suatu perusahaan sebelum membeli saham mereka.

  • Properti

Banyak orang yang mengira rumah, apartemen, atau tanah hanyalah aset. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah hanya kurang tepat. Rumah bisa menjadi aset jika disewakan atau menghasilkan passive income, di mana kita mendapatkan hasil dari menyewakannya. Sedangkan rumah akan menjadi liabiliti atau kewajiban kalau tidak menghasilkan passive income. Hal ini disebabkan bahwa rumah pada dasarnya setiap bulan, minggu, bahkan hari, membutuhkan perawatan seperti membersihkan ruangan, memperbaiki saluran air, mengganti perabotan, dan lain-lain.

Maksud dari investasi properti yaitu membeli rumah atau tanah untuk dijadikan sebagai asset, bukan menjadi suatu kewajiban. Properti setiap tahun mangalami kenaikan kurang lebih sekitar 10–20%. Namun berbeda dengan instrumen investasi lainnya yang bisa dimulai dengan dana yang kecil, karena properti membutuhkan dana yang besar dan tidak likuid. Maka properti sangat tidak cocok digunakan untuk kebutuhan mendadak, apalagi bagi mereka yang memiliki dana kecil.

Dari ketiga instrumen tersebut masing–masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita disarankan untuk berpikir cerdas dalam hal ini, agar mendapatkan pilihan yang tepat saat berinvestasi.



Related articles
0 Comments
  1. Tidak Ada Komentar.
Leave a Comment